Perjanjian Hibah

Perjanjian Hibah diatur dalam Pasal 13-15 PMK 99 Tahn 2017 sbb:

(1) Hibah harus dituangkan dalam perjanjian Hibah.

(2) Perjanjian Hibah paling sedikit memuat:

  1. Identitas Pemberi Hibah dan penerima Hibah;
  2. tanggal perjanjian Hibah/penandatanganan perjanjian Hibah;
  3. jumlah Hibah;
  4. peruntukan Hibah; dan
  5. ketentuan dan persyaratan.

(3) Salinan perjanjian Hibah disampaikan kepada BPK.

(4) Perubahan perjanjian:

  1. Perubahan terhadap perjanjian Hibah, dilakukan melalui kesepakatan tertulis antara penerima Hibah dan Pemberi Hibah dengan merujuk pada ketentuan perjanjian Hibah sebelumnya.
  2. Salinan perubahan perjanjian Hibah disampaikan kepada BPK.
  3. Dokumen asli atau salinan perubahan perjanjian Hibah yang telah dilegalisir oleh penerima Hibah yang bersumber dari Hibah luar negeri disampaikan kepada DJPPR.
  4. Berdasarkan perubahan perjanjian Hibah, DJPPR melakukan pemutakhiran data Hibah.
  5. Dokumen asli atau salinan perubahan perjanjian Hibah yang telah dilegalisir oleh penerima Hibah yang bersumber dari Hibah dalam negeri disampaikan kepada Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
  6. Berdasarkan perubahan perjanjian Hibah, Kanwill Direktorat Jenderal Perbendaharaan melakukan pemutakhiran data Hibah.
  7. Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan menyampaikan dokumen asli atau salinan perubahan perjanjian Hibah yang telah dilegalisir oleh penerima Hibah kepada DJPPR.

(5) Tanda tangan perjanjian Hibah

  1. Perjanjian Hibah yang direncanakan ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa oleh Menteri Keuangan dan Pemberi Hibah.
  2. Perjanjian Hibah langsung ditandatangani oleh menteri/pimpinan lembaga/pejabat yang diberi kuasa dan Pemberi Hibah.
  3. Dalam hal tidak terdapat perjanjian Hibah langsung untuk penggunaan Hibah, perjanjian Hibah dapat digantikan dengan SPTMHL yang ditandatangani oleh PA/KPA.
  4. SPTMHL, disusun sesuai dengan format tercantum dalam Lampiran PMK.
(PMK 99/2017)

Posting Komentar untuk "Perjanjian Hibah"